Ini Dia Wakil Aceh di Senayan

Diposkan oleh : admin
Pada Tanggal  : 2009-09-14 11:17:33
Telah Dibaca   : 655 Kali

serambinews.com

JAKARTA - Pemilu Legislatif 2009 menghasilkan 17 wakil Aceh di Senayan, terdiri atas 13 anggota DPR-RI dan empat anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Mereka adalah bagian dari 560 anggota DPR-RI dan 132 anggota DPD yang dijadwalkan dilantik pada 1 Oktober 2009. Merekalah yang diharapkan mengawal dan memperjuangkan aspirasi rakyat Aceh hingga 2014. Wakil-wakil Aceh yang duduk di Senayan periode ini didominasi oleh Partai Demokrat (PD), mengirimkan tujuh anggota, yakni Mirwan Amir, Teuku Riefky Harsya, Nova Iriansyah, Ali Yacob, Teuku Irwan, Azhari, dan Muslim. Khusus bagi Mirwan Amir dan Teuku Riefky Harsya, ini adalah periode kedua duduk di Senayan. Mirwan yang akrab dipanggil Ucok, di Aceh dikenal sebagai pengusaha sukses dan orang pertama yang memimpin PD Aceh. Mirwan Amir lahir di Medan, 7 Mei 1961.

Teuku Riefky Harsya, politisi muda Demokrat, meraih suara tertinggi dalam Pemilu 2009 di Aceh. Putra politisi Golkar, almarhum Teuku Syahrul Muda Dalam ini, lahir di Jakarta 28 Juni 1972 dan menamatkan pendidikan tinggi di Norwich University (Military College of Vermount) Amerika, 1994. Pendatang baru, Ir Nova Iriansyah, yang sekarang menjabat Ketua Partai Demokrat Aceh, selama ini lebih dikenal sebagai profesional dan usahawan. Darah politik boleh jadi mengalir dari sang ayah, Almarhum HM Nurdin Sufie, mantan Bupati Aceh Tengah yang sukses meletakkan fondasi pembangunan daerah itu. Nova lahir di Banda Aceh, 22 Nopember 1963.

Anggota parlemen dari Partai Demokrat yang lainnya, HM Ali Yacob, kelahiran Banda Aceh 55 tahun lalu. Masyarakat Aceh selama ini mengenalnya sebagai anggota DPRA dari Demokrat. Ia termasuk salah seorang yang ikut mengawal secara intensif proses pembahasan RUU Pemerintahan di DPR RI. Berikutnya, Muslim, adalah politisi paling muda dari Aceh yang duduk di Senayan. Usianya baru 28 tahun. Lahir di Alue Kumba, Aceh Timur. Muslim sempat gusar ketika namanya tak masuk dalam daftar pemenang pemilu di Aceh. Namun ia kemudian bersyukur dan berlega hati ketika Mahkamah Konstitusi mengoreksi “cara pembagian kursi” putaran kedua KPU. Pria lajang ini adalah salah seorang generasi muda Aceh yang banyak terlibat dalam kegiatan organisasi kepemudaan dan masyarakat, antara lain DPP KNPI, Satma Pemuda Pancasila, Pemuda LIRA sampai kepada organisasi pengusaha muda HIPMI Jaya. DI DPP Partai Demokrat, Muslim menjabat Ketua IV Departemen Seni dan Budaya. Dua politisi Demokrat asal Aceh lainnya yang juga wajah baru adalah Teuku Irwan dan Muhammad Azhari SH MH.

Sementara itu, Partai Golkar menempatkan dua utusannya di Senayan, yakni Marzuki Daud dan Sayed Fuad Zakaria. Ini adalah untuk ketiga kalinya Marzuki duduk di Senayan. Pertama pada 2004, menggantikan almarhum Teuku Syahrul sebagai pengganti antarwaku (PAW). Berikutnya pada April 2009, Marzuki kembali ke Senayan menggantikan politisi Golkar Marliah Amin yang mengundurkan diri, juga sebagai pengganti antarwaktu. Ketika Pemilu 2009, Marzuki unggul di Dapil NAD 2, menggeser caleg Golkar asal Aceh Tengah Mahreje Wahab. Marzuki Daud, politisi berdarah Pidie, dikenal sebagai sosok pelobi ulung dari Aceh.

Politisi Golkar lain yang “hijrah” ke Senayan adalah Sayed Fuad Zakaria. Selama ini kiprahnya lebih banyak di Aceh, sebagai Ketua DPRA periode 2004-2009. Ia juga Ketua DPD Partai Golkar Aceh dan pernah memimpin DPD I AMPI Aceh. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengantarkan M Nasir Djamil dan Tgk Raihan Iskandar Lc. Nasir Djamil bukan orang baru di panggung politik nasional. Keberadaanya di parlemen periode 2004-2009 telah memberinya banyak pengalaman bagaimana memainkan peran di forum nasional. Anak muda cemerlang dari PKS ini pernah dicalonkan menjadi Wakil Gubernur Aceh pada Pilkada 2006 berpasangan dengan Azwar Abubakar. Bagi Nasir, yang pernah berkarir sebagai wartawan ini, keberadaanya di DPR kali ini adalah yang kedua, dan diharapkan semakin mahir “mengolah bola” di Senayan.

Bersama Nasir, juga ada politisi PKS, Raihan Iskandar Lc. Pria berdarah Pidie yang lahir di Jakarta 24 Juli 1965 ini, periode 2004-2009 terpilih sebagai anggota DPRA dan terpilih sebagai Wakil Ketua DPRA. Politik dan dakwah adalah karir yang ditekuninya secara serius. Sebelumnya, Raihan Iskandar, yang akrab disapa ustad adalah dosen Universitas ’45 Bekasi, dosen STAI At-Taqwa Bekasi 1998-2000 dan Direktur Ma’had Al-Ishlah Banda Aceh, 2000-2004.

Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Amanat Nasional (PAN) harus berlega hati hanya menempatkan masing-masing satu wakilnya, yakni Tgk HM Faisal Amin (PPP) dan Ir Azwar Abubakar (PAN). Periode DPR RI 2004-2009, PPP dan PAN menempatkan dua wakilnya dari Aceh. Faisal Amin berturut-turut menjadi anggota DPRD NAD selama dua periode. Sebelumnya, juga pernah menjadi anggota DPRD Aceh Besar, juga dua periode. Tokoh Perti ini, sekarang menjabat Ketua DPW PPP Aceh sampai 2011. Lahir di Kutabaro, 5 Oktober 1961, Tgk Faisal Amin juga dikenal sebagai guru dan dosen pada sejumlah sekolah, seperti MIN Bueng Cala, Aceh Besar, MTSN, MAN I Banda Aceh, Dayah Darul Muarrif Al-Istiqamatuddin Lam Ateuk, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar, dan FKIP Unsyiah.

Azwar Abubakar, mantan Wakil Gubernur Aceh dan pernah menjadi Plt Gubernur Aceh. Azwar yang kelahiran Banda Aceh, 21 Juni 1952 memimpin DPW PAN Aceh. Saat masih menjabat Plt Gubernur Aceh, Azwar adalah orang yang mendorong terus-menerus tercapainya proses perdamaian di Serambi Mekkah.

Senator Aceh
Di forum DPD RI, suara rakyat Aceh dipercayakan kepada Tgk Abdurrahman BTM, T Bachrum Manyak, Ahmad Farhan Hamid, dan Ir Mursyid. Dari empat senator tersebut, hanya Farhan Hamid dan Bachrum Manyak yang telah mengecap banyak “asam garam” sebagai wakil rakyat di parlemen. Farhan Hamid sebelumnya adalah anggota DPR RI dari PAN dan pernah duduk sebagai anggota MPR RI utusan Daerah 1999-2004.

Bachrum Manyak, selain pernah menjabat Wakil Ketua DPRD NAD juga anggota MPR utusan daerah periode 1999-2004, juga pernah duduk di DPRD NAD periode 1999-2004 dan 2004-2009, serta DPRD Aceh Besar 1982-1987 dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Ketika reformasi bergulir, Bachrum Manyak ikut mendirikan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), partai “moncong putih” yang sekarang dipimpin Megawati Soekarnoputri. Belakangan partai yang didirikannya itu mendepak Bachrum Manyak dari jabatannya sebagai Ketua DPD PDIP Aceh dan merecall-nya dari keanggotaan DPRA.

Senator asal Aceh peraih suara terbanyak adalah Tgk Abdurrahman BTM, juru dakwah dan pengasuh Pesantren Fathur Rahman, Aceh Timur. Berasal dari Desa Bukit Bata, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur, berusia 46 tahun dan dikaruniai lima anak. Nama BTM yang ditabalkan di belakang namanya adalah singkatan “Bustanul Muta’alimin,” pesantren tempatnya belajar yang diasuh almarhum Tgk Ahmad Dewi, salah seorang ulama dan pendakwah terkenal di Aceh.

Senator lain adalah Ir Mursyid. Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan kemenagan bagi Mursyid dan berhak atas kursi “senat” dari Aceh. Anak muda kelahiran 1967 di Aceh Tengah ini, adalah tokoh yang sangat dihormati karena sikapnya yang tanpa kompromi ketika duduk di DPRD Aceh Tengah, periode 1999-2004 dan juga seorang cendekiawan Islam daerah itu. Pada masa kampanye Pemilu 2009, Mursyid mengunjungi daerah-daerah di Aceh dengan mengendarai kendaraam roda dua yang sudah tua. “Sebuah kenangan yang tak terlupakan,” katanya tentang pengalaman mengesankan itu.(fik)

 Kirim  Print  PDF

 Artikel/Berita "Berita Media Massa" Lainnya :